Catatan Tommy Dharmawan

Kumpulan tetesan tinta sumbangsihku untuk indonesia yang lebih sejahtera

0 notes

Selamat Datang di Dunia Tanpa Sinyal

Oleh: Tommy Dharmawan

 

Ini adalah cerita tentang pengalamanku mengikuti program tidak tetap atau disingkat PTT di kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara. Sebagai dokter umum yang baru saja lulus, aku berkeinginan membaktikan ilmu yang telah kuperoleh ke pelosok daerah terpencil di Indonesia. Bersama dengan ribuan dokter lainnya yang bertugas sebagai dokter PTT, aku berharap mendapatkan pengalaman yang tak ternilai harganya. Berbagai cerita dari para seniorku yang telah bertugas PTT sebelumnya telah menghiasi pikiranku. Legenda tentang dunia tanpa sinyal, cerita hantu, dan klenik bersemayam di ingatanku.

Pada akhir Januari 2009 aku pun berangkat meninggalkan gemerlapnya ibukota Jakarta menuju sebuah kabupaten di Maluku Utara. Halmahera Selatan namanya. Ya, Halmahera adalah pulau berbentuk huruf K yang terkenal sebagai penghasil cengkeh dan aneka rempah-rempah lainnya sejak zaman kolonial dahulu. Masa tugasku dimulai dengan orientasi di ibukota kabupaten. Labuha namanya. Masih ada sinyal, begitu ucapanku pertama kali pada keluargaku di ujung telepon. Selang seminggu, akhirnya saat-saat yang mendebarkan pun tiba juga. Aku harus berangkat ke Saketa di kecamatan Gane Barat yang terletak di seberang pulau Bacan. Satu jam di atas perahu motor di tengah lautan lepas, akhirnya sinyal di telepon selularku pun hilang sama sekali. Itulah awal perjalananku di dunia tanpa sinyal.

Selamat datang di dunia tanpa sinyal atau bahasa inggrisnya welcome to the world without cell phone reception. Itulah kata-kata sambutan pertama dari seorang sejawat dokter gigi di puskesmas tempatku bertugas, drg. Faisal namanya. Ia telah mengabdi 6 bulan lebih dahulu dari aku. Bersama dengannya aku pun berjuang menjadi satu-satunya dokter umum yang bertanggung jawab atas kesehatan lebih dari 9 ribu penduduk yang tersebar di 17 desa.

Suatu hari di akhir bulan ketika ombak mulai bertiup kencang, aku bersama motoris, sebutan untuk nahkoda motor boat kecil 20 PK milik puskesmas, bergegas menaiki kapal motor dari dermaga puskesmas untuk menuju ke kota pelabuhan di mana Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kabupaten Halmahera Selatan berada. Di tengah perjalanan dalam gelapnya malam, ombak setinggi 6 meter menghadangku. Rasanya ingin cepat sampai, jika ada ombak menghadang, aku perintahkan motoris tetap melajukan kapal motor karena aku tak ingin kehilangan nyawa pasien yang kuantar dalam kapal motor ini. Ya benar, aku sedang merujuk pasienku yang membutuhkan pertolongan pisau bedah di RSUD kabupaten, 10 mil jarak tempuh lautnya dari pulauku. Asaku tinggi karena perjalanan panjang yang mendebarkan tersebut hanya memerlukan waktu satu setengah jam. Lebih cepat setengah jam dari waktu biasa. Walau kapal motor sering miring ekstrem dan nyaris terguling oleh ombak, namun karena kehebatan motorisku maka kami bisa sampai lebih cepat di dermaga Babang.

Dari dermaga, kami menempuh lagi dua puluh menit perjalanan darat dengan mobil puskesmas menuju RSUD Labuha di tengah hutan pulau Bacan. Namun sesampainya di sana, asaku langsung runtuh berkeping ketika mengetahui ternyata dokter bedah RSUD sedang cuti ke Pulau Jawa mengunjungi keluarganya. Aku langsung duduk bersimpuh lemas sambil memandang lemah ke arah pasien yang kuantar dan keluarganya. Kuberanikan diri menghampiri mereka dan memberitahukan bahwa dokter bedah sedang ke pulau Jawa dan satu-satunya cara menyelamatkan pasien adalah dengan membawa pasien ke Kota Ternate. Keluarga pasien tersebut setelah berunding akhirnya menolak, dengan alasan klasik, kekurangan biaya. Satu jam di RS tersebut, dengan pertolongan maksimal dengan fasilitas yang terbatas, kondisi pasien terus memburuk, dan akhirnya ia pun meninggal dunia. Dengan wajah tertunduk, aku kembali dini hari itu juga ke Saketa menaiki kapal motor yang sama, dengan pasien yang sama, tetapi sudah terbungkus kain jenazah.

Adapun kisah mendebarkan selanjutnya adalah saat aku mengantarkan ibu hamil dalam proses persalinan yang memerlukan operasi sesar segera. Ibu itu belum memasuki waktu persalinan yang diperkirakan, tetapi sudah terjadi kontraksi rahim dan air ketubannya sudah pecah. Tentunya, lagi-lagi aku harus secepat mungkin merujuknya ke RSUD kabupaten. Di tengah hujan deras ombak kami menempuh perjalanan berbahaya itu lagi dengan perahu motor kecil milik puskesmas. Setibanya di RSUD Labuha, kejadian serupa terulang. Dokter spesialis kebidanan sedang tidak berada di RSUD, melainkan sedang rapat dengan Kepala Dinas Kesehatan di kantornya. Untungnya, di Kota Labuha saat itu sudah ada sinyal, sehingga dengan mudah saya dapat berkomunikasi dengan dokter kebidanan dan memintanya untuk segera kembali ke rumah sakit untuk melakukan operasi sesar. Nyawa sang ibu beserta sang bayi pun berhasil diselamatkan.

Cerita lain yang tak bisa kulupakan adalah saat aku harus memberitahukan bahwa telah berjangkit wabah kolera di wilayah puskesmasku ke ibu kota kabupaten. Memang jelas ada peraturan dari kepala dinas bahwa jika terjadi wabah maka hal ini harus segera diberitahukan ke kabupaten. Wabah kolera di wilayah puskemasku baru kuketahui dua hari setelah kejadiannya. Hatiku miris memikirkan hal ini, padahal lokasi tempat tinggal pasien tersebut hanyalah berjarak hanya 5 mil ke puskesmas tempatku berada. Namun, sulitnya akses menuju puskesmas dan tidak adanya jalur komunikasi membuat berita tentang wabah kolera tersebut baru bisa disampaikan kepala desanya kepadaku pada hari berikutnya. Malam hari setelah kedatangan kepala desa ke daerahku, aku bersama motoris pun langsung berangkat ke tengah laut untuk mencari sinyal. Ketika akhirnya sinyal muncul di layar telepon genggamku, aku pun menghubungi kepala dinas kesehatan yang terkait. Mendengar suaranya di ujung telepon genggam hatiku terasa ingin tumpah dengan kebahagiaan, akhirnya aku berhasil menyampaikan berita penting mengenai wabah kolera ini. Sebagai tindak lanjutnya, pada hari berikutnya bantuan pun datang ke puskemasku dan bersama-sama kami menangani kejadian wabah agar tidak lebih lanjut membahayakan masyarakat.

Pengalamanku sebagai dokter PTT tidak lepas dari kesulitan utama yang kuhadapi, yaitu perubahan drastis dari dunia dengan ketersediaan sinyal telepon genggam yang berlimpah ke dunia tanpa sinyal sama sekali, tanpa jalur komunikasi yang berarti. Dunia terasa hampa, jauh dari keluarga dan tak mungkin menghubungi mereka walau rindu tak tertahankan. Sebelumnya tak terbayangkan bahwa susahnya mencari sinyal akan menjadi cobaan terberat bagiku selama masa PTT.  

Memang tak bisa dipungkiri lagi, komunikasi memudahkan segala hal dalam kehidupan kita sehari-hari, dari hal-hal kecil hingga urusan kesehatan yang menyangkut nyawa manusia. Pentingya komunikasi yang dapat diakses dengan mudah dan terjangkau murah di daerah terpencil tak hanya terkait dengan masalah ekonomi semata, tak hanya melibatkan masalah keuntungan bagi pemerintah ataupun perusahaan swasta. Sektor kesehatan juga sangat bergantung pada keterjangkauan sistem komunikasi. Pemerataan kualitas kesejahteraan masyarakat di segi kesehatan, seperti pemerataan jumlah dokter dan tenaga kesehatan lainnya di daerah-daerah, harus diimbangi dengan pemerataan teknologi komunikasi. Walaupun tersedia banyak dokter di daerah terpencil, bagaimana daerah itu bisa maju dan sehat, jika akses komunikasi untuk menangani hal-hal penting dan kasus gawat darurat tidak tersedia? Oleh karena itu, pemerintah dan sektor swasta, seperti perusahaan-perusahaan telepon seluler yang semakin giat melebarkan jaringannya, tak bisa lagi berjalan santai menjalankan pembangunan jaringannya yang lebih luas dan merata. Sesegera mungkin investasi dalam skala besar di sektor telekomunikasi selular harus dilakukan. Sesegera mungkin harus tersedia layanan jasa telekomunikasi untuk wilayah-wilayah pelosok di Indonesia, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

 

Penulis bernama Tommy Dharmawan, seorang dokter, saat ini tinggal di Jakarta.

Blog URL: tommydharmawan.tumblr.com

Email: tommydharmawan@gmail.com